Tampilkan postingan dengan label STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STORY. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

BATU, KERIKIL, PASIR

BATU, KERIKIL, PASIR
Seorang profesor filsafat ketika sedang memberikan kuliah mengeluarkan sebuah botol mayones yang sudah kosong. Kemudian ia mengeluarkan beberapa batu yang kemudian diisikannya ke botol itu.
Ketika sudah dua batu diisikan, sudah tak ada tempat lagi bagi batu ketiga. Ia bertanya pada mahasiswanya apakah botol itu sudah penuh? Mahasiwanya mengiakan.
Kemudian ia mengambil kerikil kecil. Dimasukkannya kerikil itu ke botol dan botol itu dikocok-kocoknya. Kerikil-kerikil itu akhirnya masuk bergulir memenuhi ruang di antara batu-batu itu. Sekali lagi ia bertanya apakah botol itu penuh? Mahasiswanya menjawab ya.
Lalu profesor itu mengambil pasir dan menuangkannya ke botol. Setelah botol itu diguncang-guncangkan beberapa kali, pasir itu masuk mengisi ruang yang masih tersisa memenuhi botol.
"Sekarang," kata profesor, "Saya ingin kalian tahu bahwa botol ini mengibaratkan hidup kamu.
Batu-batu ini adalah hal-hal yang paling penting dalam hidup kamu yaitu , keluarga, kesehatan, anak-anak Anda. Kerikil-kerikil ini adalah hal-hal lain yang juga penting dalam hidup Anda, misalnya pekerjaan, pengetahuan, ketrampilan Anda. Pasir adalah hal-hal lain seperti hobby dan kesenangan Anda.
Bila Anda memasukkan kerikil dan pasir terlebih dahulu maka tak ada ruang lagi buat batu. Begitu juga dengan hidup Anda. Bila Anda mencurahkan seluruh energi dan waktu Anda untuk hal-hal yang kecil, materi, kedudukan, kesenangan, maka Anda tak mempunyai ruang lagi untuk hal yang benar-benar penting dalam hidup Anda.
Berikan prioritas pada hal yang terpenting. Beri perhatian pada isteri atau suami dan anak-anak Anda. Dan jangan lupa berikan pula waktu bagi Dia yang memelihara Anda.
Jangan khawatir Anda akan tetap punya waktu untuk pekerjaan dan kesenangan Anda, karena hal-hal itu hanyalah kerikil dan pasir saja."

###########################
Susan Winarko (Narko)
73015103
BSS NO&M Surabaya Area
Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja. Dia terus bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya. Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf,dia selalu berkata, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar aja.
Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya. Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.
Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.
Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungin mereka." Ini tidak terlalu mengganggu Dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar.Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.
Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.
Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta kamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, "Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya." Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.
Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari. Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut. Sebelum sempat berkata "Aku cintakamu", istrinya telah meninggal dunia. Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar bahwa anak anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.
Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand,dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah Jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya.Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang Tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu...." Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir, Dia meninggal dunia dengan airmata dipipinya. ===========================================================================================================
Apa yang saya ingin coba katakan pada anda, waktu itu nggak pernah berhenti. Dia akan terus berpitar dan terus berputar.
Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh........
Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!
Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.
Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dan cinta dia, jangan tunggu sampai terlambat. Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.
Karena rasa sayang, cinta dan perasaan terhadap seseorang terkadang tidak bisa kita nalar secara nalar dan logika
Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka "besok" akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.
Jangan tunda kirim email ini ke sahabat-sahabat anda..... Atau.... masih ada hari esok......

Best Regards,



i R m a .Y.

NSS & VAS OM

technic operation

INDOSAT KAYOON SBY

ESOK MUNGKIN TAKKAN PERNAH ADA

ESOK MUNGKIN TAKKAN PERNAH ADA

Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 tahun. Ketika saya sedang
bermain di halaman rumah saya di California, saya bertemu seorang anak
laki-laki. Dia seperti anak laki-laki lainnya yang menggoda saya dan
kemudian saya mengejarnya dan memukulnya. Setelah pertemuan pertama
dimana
saya memukulnya, kami selalu bertemu dan saling memukul satu sama lain
di
batas pagar itu. Tapi itu tidaklah lama. Kami selalu bertemu di pagar
itu
dan kami selalu bersama.
Saya menceritakan semua rahasia saya. Dia sangat pendiam... dia hanya
mendengarkan apa yang saya katakan. Saya menganggap dia enak diajak
bicara
dan saya dapat berbicara kepadanya tentang apa saja.
Di sekolah, kami memiliki teman-teman yang berbeda tapi ketika kami
pulang
ke rumah, kami selalu berbicara tentang apa yang terjadi di sekolah.
Suatu
hari, saya bercerita kepadanya tentang anak laki-laki yang saya sukai
tetapi telah menyakiti hati saya.... Dia menghibur saya dan mengatakan
segalanya akan beres. Dia memberikan kata-kata yang mendukung dan
membantu
saya untuk melupakannya. Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai
teman sejati.

Tetapi saya tahu bahwa sesungguhnya ada yang lainnya dari dirinya yang
saya
suka. Saya memikirkannya malam itu dan memutuskan bahwa itu adalah
rasa

persahabatan. Selama SMA dan semasa kelulusan, kami selalu bersama dan
tentu saja saya berpikir bahwa ini adalah persahabatan.

Tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu bahwa ada sesuatu yang lain. Pada
malam kelulusan, meskipun kami memiliki pasangan sendiri-sendiri,
sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yang menjadi pasangannya.
Malam itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk
mengatakannya. Malam itu adalah kesempatan terbesar yang saya miliki
tapi

saya hanya duduk di sana dan memandangi bintang bersamanya dan
bercakap-cakap tentang cita-cita kami. Saya melihat ke matanya dan
mendengarkan ia bercerita tentang impiannya. Bagaimana dia ingin
menikah
dan sebagainya. Dia bercerita bagaimana dia ingin menjadi orang kaya
dan
sukses. Yang dapat saya lakukan hanya menceritakan impian saya dan
duduk
dekat dengan dia.

Saya pulang ke rumah dengan terluka karena saya tidak mengatakan
perasaan

saya yang sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya sangat
mencintainya tapi saya takut. Saya membiarkan perasaan itu pergi dan
berkata kepada diri saya sendiri bahwa suatu hari saya akan mengatakan
kepadanya mengenai perasaan saya.

Selama di universitas, saya ingin mengatakan kepadanya tetapi dia
selalu
bersama-sama dengan seseorang. Setelah lulus, dia mendapatkan
pekerjaan
di
New York. Saya sangat gembira untuknya, tapi pada saat yang sama saya
sangat bersedih menyaksikan kepergiannya. Saya sedih karena saya
menyadari
ia pergi untuk pekerjaan besarnya. Jadi... saya menyimpan perasaan
saya

untuk diri saya sendiri dan melihatnya pergi dengan pesawat. Saya
menangis
ketika saya memeluknya karena saya merasa seperti ini adalah saat
terakhir.
Saya pulang ke rumah malam itu dan menangis. Saya merasa terluka
karena

saya tidak mengatakan apa yang ada di hati saya.

Saya memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris dan akhirnya menjadi
seorang

analis komputer. Saya sangat bangga dengan prestasi saya. Suatu hari
saya

menerima undangan pernikahan. Undangan itu darinya. Saya bahagia dan
sedih
pada saat yang bersamaan. Sekarang saya tahu kalau saya tak akan
pernah

bersamanya dan kami hanya bisa menjadi teman.

Saya pergi ke pesta pernikahan itu bulan berikutnya. Itu adalah sebuah
peristiwa besar. Saya bertemu dengan pengantin wanita dan tentu saja
juga

dengannya. Sekali lagi saya merasa jatuh cinta. Tapi saya bertahan
agar

tidak mengacaukan apa yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi
mereka. Saya mencoba bersenang-senang dengan berdansa dengannya malam
itu,
tapi sangat menyakitkan hati melihat dia begitu bahagia. Saya mencoba
untuk
juga berbahagia dan menutupi air mata kesedihan yang ada di hati saya.
Saya
meninggalkan New York merasa bahwa saya telah melakukan hal yang
tepat.

Sebelum saya berangkat... tiba-tiba dia muncul dan mengucapkan salam
perpisahan dan mengatakan betapa ia sangat bahagia bertemu dengan
saya.

Saya pulang ke rumah dan mencoba melupakan semua yang terjadi di New
York.

Kehidupan saya harus terus berjalan. Tahun-tahun berlalu... kami
saling

menulis surat dan bercerita mengenai segala hal yang terjadi dan
bagaimana
dia merindukan untuk berbicara dengan saya. Pada suatu ketika, dia tak
pernah lagi membalas surat saya. Saya sangat kuatir mengapa dia tidak
membalas surat saya meskipun saya telah menulis 6 surat kepadanya..
Ketika
semuanya seolah tiada harapan, tiba-tiba saya menerima sebuah catatan
kecil
yang mengatakan : "Temui saya di pagar dimana kita biasa
bercakap-cakap"
Saya pergi ke sana dan melihatnya di sana. Saya sangat bahagia
melihatnya

tetapi dia sedang patah hati dan bersedih. Kami berpelukan sampai kami
kesulitan untuk bernafas.

Kemudian ia menceritakan kepada saya tentang perceraian dan mengapa
dia

tidak pernah menulis surat kepada saya. Dia menangis sampai dia tak
dapat

menangis lagi... Akhirnya kami kembali ke rumah dan bercerita dan
tertawa

tentang apa yang telah saya lakukan mengisi waktu. Akan tetapi, saya
tetap
tidak dapat mengatakan kepadanya bagaimana perasaan saya yang
sesungguhnya
kepadanya.

Hari-hari berikutnya... dia gembira dan melupakan semua masalah dan
perceraiannya. Saya jatuh cinta lagi kepadanya. Ketika tiba saatnya
dia

kembali ke New York, saya menemuinya dan menangis. Saya benci
melihatnya
harus pergi. Dia berjanji untuk menemui saya setiap kali dia mendapat
libur. Saya tak dapat menunggu saat dia datang sehingga saya dapat
bersamanya. Kami selalu bergembira ketika sedang bersama.

Suatu hari dia tidak muncul sebagaimana yang telah dijanjikan. Saya
berpikir bahwa mungkin dia sibuk. Hari berganti bulan dan saya
melupakannya. Suatu hari saya mendapat sebuah telepon dari New York.
Pengacara mengatakan bahwa ia telah meninggal dalam sebuah kecelakaan
mobil
dalam perjalanan ke airport. Hati saya patah. Saya sangat terkejut
akan

kejadian ini.

Sekarang saya tahu... mengapa ia tidak muncul hari itu. Saya menangis
semalaman. Air mata kesedihan dan kepedihan. Bertanya-tanya mengapa
hal
ini
bisa terjadi terhadap seseorg yang begitu baik seperti dia ?

Saya mengumpulkan barang-barang saya dan pergi ke New York untuk
pembacaan
surat wasiatnya. Tentu saja semuanya diberikan kepada keluarganya dan
mantan istrinya. Akhirnya saya dapat bertemu dengan mantan istrinya
lagi
setelah terakhir kali saya bertemu pada pesta pernikahan. Dia
menceritakan
bagaimana mantan suaminya. Tapi suaminya selalu tampak tidak bahagia.
Apapun yang dia kerjakan... tidak bisa membuat suaminya bahagia
seperti

saat pesta pernikahan mereka. Ketika surat wasiat dibacakan,
satu-satunya

yang diberikan kepada saya adalah sebuah diary. Itu adalah diary
kehidupannya. Saya menangis karena itu diberikan kepada saya. Saya tak
dapat berpikir... Mengapa ini diberikan kepada saya ?

Saya mengambilnya dan terbang kembali ke California. Ketika saya
dipesawat,
saya teringat saat-saat indah yang kami miliki bersama. Saya mulai
membaca
diary itu. Diary dimulai ketika hari pertama kami berjumpa. Saya terus
membaca sampai saya mulai menangis. Diary itu bercerita bahwa dia
jatuh

cinta kepada saya di hari ketika saya patah hati. Tapi dia takut untuk
mengatakannya kepada saya.

Itulah sebabnya mengapa dia begitu diam dan mendengarkan segala
perkataan

saya. Diary itu menceritakan bagaimana dia ingin mengatakannya kepada
saya
berkali-kali, tetapi takut. Diary itu bercerita ketika dia ke New York
dan
jatuh cinta dengan yang lain. Bagaimana dia begitu bahagia ketika
bertemu

dan berdansa dengan saya di hari pernikahannya. Dia berkata bahwa ia
membayangkan bahwa itu adalah pernikahan kami.

Bagaimana dia selalu tidak bahagia sampai akhirnya harus menceraikan
istrinya. Saat-saat terindah dalam kehidupannya adalah ketika membaca
huruf
demi huruf yang saya tulis kepadanya. Akhirnya diary itu berakhir
dengan
tulisan, "Hari ini saya akan mengatakan kepadanya bahwa saya
mencintainya"
Itu adalah hari dimana dia terbunuh. Hari dimana pada akhirnya saya
akan
mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya.

*******************************************************
Jika engkau mencintai seseorang, "JANGAN TUNGGU ESOK HARI UNTUK
MENGATAKAN
KEPADANYA" karena esok hari itu... mungkin takkan pernah ada..

CERITA PILU DI BAWAH LANGIT BIRU

CERITA PILU DI BAWAH LANGIT BIRU

Fiyan Arjun
http://sebuahrisala h.multiply. com
ID YM : paman_sam2

Tiap hari saya selalu melewati jalan itu. Jalan dimana ketika saya mau berangkat kerja sambil menaiki angkot yang saya tumpangi itu, selalu saja ada hal-hal yang membuat hati saya terenyuh melihat suasana jalan itu. Bukan! Bukan soal jalanan yang tak rata atau bukan suasana perjalanannya yang tak nyaman. Macet. Ini bukan! Malahan ini lebih sekedar dari itu. Tepatnya jalan itu kalau secara khusus bisa saya katakan adalah persis dibawah antara jalan fly over dan lampu merah. Di tempat itulah saya harus benar-benar siap “membuka” mata hati saya jika melewati tempat itu.

Tak ada satu pun yang terlewatkan jika saya melewati jalan itu dengan menumpangi angkot sebagai jasa tranportasi saya untuk menuju ke tempat saya bekerja. Pasti ada saja hal yang mebuat hati saya terketuk untuk berempati dan simpati kepada sesamanya. Sesama saudara yang tak beruntung di tempat itu. Diantara jalan fly over dan di bawah lampu merah. Banyak saya lihat saudara-saudara saya yang tak seberuntung nasibnya dibandingkan saya. Mau menutup mata? Saya rasa tak bisa! Toh, tiap hari jika saya berangkat kerja mereka itu selalu bermain di pelupuk mata saya. Mana mungkin saya bisa begitu saja menutup mata saya atau mengabaikannya. Padahal mereka itu adalah saudara-saudara saya yang patut saya “lihat.”

Terlalu egois dan tak berhati jika saya memiliki niatan seperti itu. Menutup mata kemudian mengabaikannya begitu saja. Kalau begitu buat apa Yang Maha Pencipta memberikan saya mata dan hati jika saya tidak memfungsikannya sebagai panca indera yang dapat untuk melihat dan merasakan penderitaan saudaranya sendiri. Entahlah, saya harap Allah Yang Maha Kuasa selalu memberikan kemurahan rezeki dan kemudahan untuk saya baik dalam bekerja maupun dalam hal rezeki dan akhirnya saya dapat bisa membantu saudara-saudara yang lainnya yang tak seberuntung saya sesuai dengan kemampuan saya. Walaupun saat ini saya hanya bisa membantu alakadarnya terhadap saudara-saudara yang ada di pelupuk mata saya yang sedang mengais seperak demi seperak uang untuk membeli sesuap nasi. Saya harap saya bisa melakukan hal yang terbaik untuk saudara-saudara saya kemudian hari.

Sebagai makhluk yang sempurna diciptakan olehNya yang diberi kecukupan sepantasnyalah kita harus membantu dan menolong sesama jangan menunggu nanti gajian atau menunggu kaya. Itu sama saja menunda-bunda pertolongan dan kebaikan jika berpendaoat seperti itu. Kok mau berbuat baik nunggu gajian atau kaya? Dan lagi pula toh mereka juga tak mau dilahirkan seperti itu. Sengsara atau tak beruntung serta mengais-ngais demi seperak demi seperak di bawah fly over dan di bawah lampu merah. Karena apa? Itu semua sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Hidup, jodoh, rezeki maupun maut itu adalah takdirNya. Jadi sudah sepantasnya sebagai makhluk yang beriman dan sempurna haruslah banyak bersyukur kepadaNya. Sebab tanpa DIA kita adalah makhluk yang lemah dan penuh dosa. Maka sepantasnya jika ada hamba-hambanya merasa yang sudah cukup dan hartawan tentulah jelas harus menghadapi hal itu. Berempati dan bersimpati. Menolong mereka di bawah fly over dan dibawah lampu merah.

Hingga akhirnya saya punya impian ketika saya sering kali melewati tempat itu. Apalagi di bawah fly over dan di bawah lampu merah itu. Tiap hari selalu ada saja tangan-tangan mungil menengedahkan tangannya meminta belas kasihan. Meminta uang setiap kali ada mobil mewah lewat. Serta mengamen tanpa melihat bahwa bahaya sedang mengintai mereka. Selalu tak berhati-hati dalam melakukan “aksi panggung kecilnya” di angkot-angkot. Mengamen. Dan juga ada hal yang lebih prihatinkan lagi. Ketika ekor mata saya melihat seorang ibu-ibu muda sedang membawa seorang anak kecil meminta belas kasihan padahal anak kecil yang dibawanya itu sedang menangis sekeras-kerasnya karena tak tahan dengan teriknya mentari di bawah fly over dan lampu merah. Saya yang melihat itu tak dapat berbuat banyak hanya berdoa dan simpati. Ya, Allah berikan saya kemudahan untuk membantu mereka,” gumam saya saat itu juga dan angkot yang saya tumpangi akhirnya meninggalkan mereka di bawah fly over dan dibwah lampu merah.

Sebenarnya saya tak tega untuk meninggalkan mereka di sana. Tapi apa daya saya juga punya kewajiban sebagai seorang hamba yang menjadi seorang pekerja yang harus mengemban suatu amanah juga. Kalau saya meninggalkan itu semua berarti saya tidak menjaga amanah yang diamanahkan oleh orang yang mempercayai saya. Halnya seperti saya jika tak peduli dan menutup mata kepada saudara-saudara saya ada di bawah fly over dan di bawah lampu merah. Tidak amanah saya jadinya!

Ya, itulah sekelumit cerita pilu saya di bawah langit biru yang membuat hati saya terenyuh dan tergugah akan sebagai makhlukNya yang masih memiliki hati dan perasaan. Saling bersimpati dan berempati. Walau pun keadaan saya saat ini belum memiliki hal yang berarti untuk lebih banyak melakukan dan menolong saudara-saudara saya di bawah fly over dan di bawah lampu merah. Hanya alakadarnya yang dapat saya lakukan dan berikan. Yakni, berdoa dan memberikan apa yang saya miliki walau pun dibawah langit biru.
Antara Ulujami dan Ciputat
Ketika hati ini terketuk

SUAMI SETIA

Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja
bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah
sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan
mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia
letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan
siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan
selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan
apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia
merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,
sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka
sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal
dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg
merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin
sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada
sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.bahkan bapak tidak ijinkan kami
menjaga ibu" .

dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat
kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi ,kami rasa ibupun akan
mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban
seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan
merawat ibu bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku
Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah,
tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari
cukup, dia telah Melahirkan kalian".. sejenak kerongkongannya tersekat,
kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak
satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia
menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia,
apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya
sekarang". kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan
dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit. Sejenak
meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh
dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat
dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta
untuk menjadi nara sumber diacara islami Selepas shubuh dan merekapun
mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25
tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak
tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun
tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita".

Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai
karena Allah semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi
pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat
saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia
memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah..dan itu merupakan
ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia
sakit,,,setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita
kepada Allah

Diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk
menyimpan dan mendengar rahasia saya

Semangkuk bakmi panas

NICE STORY..
Semangkuk bakmi panas

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana
segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu
jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia
mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi,
tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu
berkata "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?" "
Ya, tetapi, aku tdk membawa uang" jawab Ana dengan malu-malu

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai.
"Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana
segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. " Ada
apa nona?"
Tanya si pemilik kedai.
"tidak apa-apa" aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air
matanya.

"Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !,
tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari
rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah"
"Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku
dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai.


Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang
dan berkata "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal
ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu.
Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat
ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah
bertengkar dengannya"

Ana, terhenyak mendengar hal tsb. "Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb?
Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih,
tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan
tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya.
Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk
segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan
kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu
rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu
dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana kau
sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan
makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau
tdk memakannya sekarang".
Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan
ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain
disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.
Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang
tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka
seumur hidup Kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.
SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES
ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH
HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU??
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?

HAI ANAK-ANAK, TAATI DAN HORMATILAH ORANG TUAMU DALAM KESEHARIANMU,
KARENA ITULAH HAL YANG INDAH DIMATA TUHAN.



Jika Anda mendapat Berkat dari tulisan diatas, maka bagikan juga kepada
handai tolan Anda...
BEST REGARDS

Kisah Seekor Monyet

Seekor anak monyet bersiap-siap hendak melakukan perjalanan jauh.
Ia merasa sudah bosan dengan hutan tempat hidupnya sekarang. Ia mendengar
bahwa di bagian lain dunia ini ada tempat yang disebut "hutan" di mana
ia berpikir akan mendapatkan tempat yang lebih "baik".
"Aku akan mencari kehidupan yang lebih baik!" katanya.
Orangtua si Monyet, meskipun bersedih, melepaskan kepergiannya.
"Biarlah ia belajar untuk kehidupannya sendiri," kata sang Ayah kepada sang
Ibu dengan bijak.

Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari "hutan" yang ia gambarkan
sebagai tempat hidup kaum Monyet yang lebih baik. Sementara kedua
orangtuanya tetap tinggal di hutan itu.
Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara
mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu
disambut gembira orangtuanya.

Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata, "Ayah, Ibu, aku tidak menemukan
hutan seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui
selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah
tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama hutan."
"Malah, mereka mentertawakanku. " sambungnya sedih.
Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu.
"Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana," lanjutnya, "Ia mengatakan
bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai hutan itu adalah
hutan yang kita tinggali ini!.
Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di hutan itu!"
Benar, anakku. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang
jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata."

Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di
sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang "jauh-jauh"
yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir
pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala
rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian
dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian
dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari
rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang.

Tanpa mengecilkan arti masa depan dan sesuatu yang lebih baik, ada baiknya
apabila kita fokus dengan apa yang ada di depan mata, apa yang kita kerjakan
sekarang, karena hal ini akan berpengaruh terhadap masa depan Anda.
Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi
jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari
tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban
dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun,
anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua
menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah
saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika
tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang
paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering
berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini
penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-
benar"hidup" . Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku
dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu
kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar
pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh
dengan air mata. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling
penting adalah bahumu."

Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?" Ibu
membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman
atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kadang
dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma
berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu
selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya. "

Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak
menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap
penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa
yang kamu katakan... Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan...
Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka
berarti.

"Masa depan Anda, karir Anda, serta kehidupan Anda adalah yang Anda kerjakan
hari ini."

Cerita Ubaid

2008/6/21 Arihadi :

Terkadang untuk menyampaikan sebuah kebenaran tidak
perlu ceramah dan retorika. Tutur kata yang santun &
perilaku mengesankan dapat membuat seseorang simpati
lalu jatuh hati.

Ubaid adalah seorang pegawai. Belasan tahun sudah ia
bekerja di sebuah bank swasta. Orangnya jujur, rajin
dan taat beribadah. Agama baginya bukan hanya di
masjid dan dinikmati sendiri. Namun agama menurutnya
adalah dakwah, berbagi dengan sesama sehingga nilai
dan sinarnya dapat dirasakan oleh orang lain.

Ubaid beruntung karena mendapatkan fasilitas KPR dari
kantornya. Dua minggu sudah ia mencari-cari rumah yang
sesuai dengan plafond kantor dan sesuai pula dengan
keinginannya. Allah Swt menunjukkan rumah yang sesuai
untuknya di sebuah bilangan di Ciputat - Tangerang,
Cirendeu tepatnya.

Ubaid menceritakan kepada istrinya rumah yang baru
saja dilihat. Sore itu Ubaid berjanji untuk mengajak
istrinya untuk melihatnya sekaligus meminta
persetujuan atas rumah yang dimaksud.

Setengah enam sore, Ubaid & istri berangkat dari rumah
menuju Cirendeu. Baru separuh jalan, terdengarlah
kumandang adzan Maghrib. Mendengarnya, Ubaid berujar
kepada istrinya , "Shalat Maghrib kita numpang saja ya
di rumah yang mau kita lihat..!" Istrinya pun
mengiyakan usul Ubaid.

Ubaid & istri sampai di rumah itu. Pemilik rumah
menyambut mereka dengan seulas senyum. Mereka
dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Dalam
pembicaraan yg mereka lakukan, Ubaid & istri
mengetahui bahwa ibu pemilik rumah adalah seorang
janda usia 50 tahun lebih beranak dua.

"Berapa bu rumah ini mau dijual?" tanya istri Ubaid
kepada pemilik rumah. "Saya mau lepas dengan harga 300
juta" sahut pemilik rumah.
"Gak boleh kurang?" tandas istri Ubaid.
"Itu juga sudah murah... Kemarin ada yang tawar 260
juta saya gak kasih" jawab pemilik rumah.
Mendengarnya Ubaid & istri menjadi paham harga yang
diinginkan pemilik rumah, namun plafond dari kantor
untuk Ubaid hanya Rp 250 juta. Ubaid & istri saling
berpandangan. Budget mereka tidak sesuai dengan harga
rumah yg diinginkan.

***

Ubaid melirik jam di pergelangan tangannya. Masya
Allah...! Waktu Isya sebentar lagi tiba, padahal Ubaid
& istri belum shalat Maghrib...
Ubaid lalu berkata kepada pemilik rumah, "Ibu, boleh
kami numpang shalat di sini?"
Mendengar kalimat itu rona wajah pemilik rumah berubah
drastis. Tampak kebingungan & sedikit tegang. Ubaid
merasakan hal itu, ia pun meralat kalimatnya, "Kalo
gak boleh shalat di sini, masjid yang terdekat dimana
ya...?"
Kalimat ini pun menambah kekikukan bagi pemilik rumah,
dan ia pun menyergah "Masjid jauh dari sini!!!"
Ubaid pun menjadi bingung atas sikap & jawaban dari
pemilik rumah. Dalam hati ia menduga kalau-kalau
pemilik rumah bukan seorang muslimah. Namun Ubaid &
istrinya harus segera shalat Maghrib, ia pun berujar,
"Kalo gak boleh shalat di dalam rumah, bolehkah kami
shalat di teras?"
Merasa terdesak, pemilik rumah akhirnya mengizinkan.
Maka jadilah Ubaid & istrinya shalat Maghrib di teras
rumah. Tanpa alas apapun sebagai sejadah mereka.

***

Usai shalat, Ubaid dan istri melanjutkan pembicaraan
dengan pemilik rumah. Tidak berlangsung lama, mereka
pun berpamitan. Sayang malam itu tidak ada angka yang
disetujui oleh mereka, baik oleh Ubaid dan istri
ataupun dari pemilik rumah. Masing-masing bertahan
dengan harga dan uang yang mereka mau.

"Malam itu akhirnya gak ada angka yang pas buat kita,
beliau maunya 300 juta, padahal saya hanya boleh
ngambil KPR maksimal Rp250 juta" demikian Ubaid
bercerita kepada saya.
"Namun pak, aneh sungguh aneh luar biasa.... keesokan
paginya, ibu pemilik rumah menelpon ke hp saya!" Ubaid
melanjutkan ceritanya. Kalimat terakhir yang ia
ucapkan membuat saya bertanya ada apa gerangan.

Ubaid bercerita bahwa pemilik rumah itu bertanya lewat
pembicaraan telpon pagi-pagi sekali, "Pak Ubaid, saya
nelpon cuma mau tanya, apakah setiap rumah yang hendak
bapak beli harus disembahyangin dulu...?!"
Saat Ubaid sampaikan kalimat itu, dahi saya berkernyit
dan membuat saya berujar, "Maksudnya apa?"
"Itu dia pak..., saya pun menanyakan hal yang sama
kepada ibu itu?!" sahut Ubaid. Lalu Ubaid menceritakan
bahwa ibu pemilik rumah itu menanyakan kepadanya
apakah setiap rumah yang mau dibeli harus dishalatin
dulu?
"Saya bilang sama ibu tadi bahwa saat itu kami berdua
belum shalat Maghrib padahal waktu Isya sudah hampir
masuk... jadi apa yang kami lakukan adalah sebuah
kewajiban bukannya untuk menentukan rumah itu cocok
atau tidak...!" Ubaid menjelaskan kalimat yang ia
sampaikan kepada ibu pemilik rumah.
"Tapi pak..., ibu itu berkata bahwa entah kenapa usai
saya & istri pulang ia merasa cocok dan menjadi tenang
hatinya, makanya pagi itu beliau menelpon ke hp saya"
Ubaid menambahkan.

Lebih panjang Ubaid bercerita kepada saya bahwa ibu
itu mengaku sudah hampir 30 tahun tidak pernah shalat
sejak ia ditinggal oleh suaminya dan harus membesarkan
kedua anaknya. Hidupnya panik dan sulit. Ia harus
bekerja dan mencari nafkah. Duit dan duit yang ada
dalam kepalanya, dia lupa sama sekali untuk menyembah
Allah.

"Sekarang, ibu itu tidak kurang 3 kali dalam seminggu
pasti menelpon atau berkunjung ke rumah. Dia mau
belajar menjadi muslimah lagi katanya" Ubaid
menjelaskan kepada saya.
"Rumah itu sudah kami beli darinya. Harganya pun amat
menakjubkan. ..! Jauh dari dugaan kami semula... Kami
membelinya dengan harga Rp 220 juta saja!!!" tambah
Ubaid. Saya takjub mendengarnya.
"Lebih hebatnya lagi..., sampai sekarang rumah itu
baru separuh kami bayar. Bukan karena keinginan kami,
tapi keinginan ibu itu!!!" tegas Ubaid. Saya langsung
bertanya keheranan , "Kok bisa begitu...?"
"Dia bilang bayar saja sisanya kalau saya sudah merasa
puas belajar ibadah kepada pak Ubaid dan keluarga...!"
Ubaid menutup kalimatnya sambil tersenyum.

***
Subhanallah. ... kisah itu begitu berarti bagi saya
yang mendengarnya. Terkadang bila ibadah sudah mewujud
dalam akhlak seseorang, maka simpati dari sesama akan
terbit dan menyinari kehidupan yang kita jalani.
Ternyata, semuanya menjadi makin indah dengan
ibadah!!!

Jazakumullah Ubaid atas inspirasinya!

Salam,
Bobby Herwibowo
www.kaunee.com

Kisah Ikan dan Air

Kisah Ikan dan Air


Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Kata Ayah kepada anaknya, "Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati."

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini? Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, "Hai, tahukah kamu dimana air ?

Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati?" Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, "Dimanakah air ?"

Jawab ikan sepuh, "Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati."

Apa arti cerita tersebut bagi kita ?

Manusia kadang-kadang mengalami situasi seperti si ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalanin ya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai dia tidak menyadarinya. ....

Kehidupan dan kebahagiaan ada di sekeliling kita dan sedang kita jalani, sepanjang kita mau membuka diri dan pikiran kita, karena saat untuk berbahagia adalah saat ini, saat untuk berbahagia dapat kita tentukan.

"Being happy can be hard work sometimes, it is like maintaining a nice home, you've got to hang on to your treasures and throw out the garbage."

"Being happy requires looking for the good things. One person sees the beautiful view and the other sees the dirty window, choose what you see and what you think."

"Right here, right now, from here until tomorrow"

Tuhan, Orang Miskin, dan Ulama

Tuhan, Orang Miskin, dan Ulama
Alkisah, Tuhan bertanya, “Wahai Musa, apakah dirimu memiliki amal tulus yang diperuntukkan bagi-Ku?” Nabi Musa menjawab, “Benar, duhai Tuhan Pemeliharaku. Aku mendirikan shalat, menjalankan ibadah puasa, membayar zakat, dan menunaikan kewajiban-kewajiban lain.”

Tuhan berfirman, “Wahai Musa, shalatmu itu untuk memuaskan hasratmu, puasamu itu untuk menyehatkan tubuhmu, dan zakatmu itu untuk menyucikan hartamu. Demikian pula dengan kewajiban-kewajiban lain. Lantas, mana amalmu yang tulus, yang diperuntukkan bagiKu?”

Kontan tubuh Nabi Musa as bergetar, lalu bersujud seraya berkata, “Duhai Tuhan Pemeliharaku, tunjukkan padaku amal tulus yang hanya diperuntukkan bagiMu!”

Kemudian, Tuhan pun berfirman, “Hai Musa, pernahkah Engkau mengenyangkan perut orang lapar? Pernahkah engkau memberikan pakaian kepada orang yang tidak berpakaian layak? Pernahkah Engkau memuaskan dahaga orang yang haus? Pernahkah engkau memuliakan orang yang berilmu? Semua itu adalah amal ibadah murni, yang tulus diperuntukkan bagiKu.”

Ya, tujuan diciptakannya manusia adalah menghamba kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini biasa disebut dengan 'ubudiyyah.
Makna ibadah dan 'ubudiyah itu berbeda.
Ibadah. Kecenderungan ibadah terpatri kuat dalam fitrah manusia. Tanpa perintah Tuhan, kecenderungan ini tetap eksis dalam jiwa manusia.
Ibadah manusia bergantung pada sehat dan sakitnya fitrah.
Semakin sehat fitrah seseorang, kian kuat pula kecenderungannya untuk beri-badah. Begitu pula sebalikya.

'Ubudiyah bermakna menjadikan diri sebagai budak Tuhan dan benar-benar menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNya.
Oleh karena itu, 'ubudiyah sebagai tujuan penciptaan manusia, selalu didasari perintah-perintah Ilahi.

Dalam 'ubudiyah, terdapat dua noktah penting yang patut diperhatikan:

Pertama, sangat mungkin ibadah manusia dilatari nafsu. Demikianlah ibadah Iblis.
Manakala diperintah Tuhan bersujud di hadapan Nabi Adam, Iblis membangkang dengan sikap congkak. Tak cuma di situ, Iblis malah berdalih bahwa dirinyalah yang terbaik. Begitulah sikap beribadah yang ditopang hasrat dan nafsu pribadi, bukan untuk mereguk keridhaan Allah.

Kedua, hubungan manusia dengan sesama memiliki nilai penting di mata Tuhan. Hubungan ini mencermikan kedekatan dengan Tuhan. Makin besar bakti manusia kepada sesama, kian besar pula ridha Tuhan yang diraihnya. Manusia mejadi baik dan bernilai ditinjau dari hubungannya dengan sesama, bukan ibdahnya kepada Tuhan. Iman seseorang bakal dipertanyakan jika dia lalai memperhatikan tetangga yang sulit tidur karena menahan lapar. Rasul saw bersabda, “Tidak beriman kepadaku siapa saja yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” Ketidakpedulian kepada lingkungan mampu meruntuhkan, bahkan menghilangkan keimanan. Orang yang tekun beribadah, namun tidak mempedulikan nasib orang lain sama seperti Iblis yang bangga dengan ibadahnya. Tentu, ibadah seperti ini tidak bernilai dan tertolak di sisi Tuhan.

Kepedulian kepada sesama dapat diwujudkan dalam bentuk pemenuhan hak mereka, baik hak untuk ditolong atau hak untuk dimuliakan. Kelompok manusia yang berhak ditolong adalah kaum lemah, tertindas, orang miskin, anak putus sekolah, anak yatim, dan sebagainya. Adapun kelompok manusia yang patut dimuliakan adalah para nabi, rasul, pemimpin yang adil, ulama, orang tua, guru, dan sebagainya.

Dalam pandangan al-Quran, ketakwaan identik dengan kepedulian sosial. Orang bertakwa adalah pribadi yang suka memberi kepada siapa saja yang membutuhkan dan meringankan beban penderitaan orang lain. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Q.S. al-Lail 5-7)

Ketidakpedulian dan pengabaian hak-hak orang lain mengakibatkan rahmat Tu-han berpaling dari pelakunya dan mendatangkan kesulitan. Al-Quran menyebut kelompok ini sebagai orang bakhil dan merasa cukup. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (Q.S. al-Lail 8-10)

Tiada ibadah yang terbaik selain memperhatikan dan memenuhi hak orang tertindas dan orang miskin. Demikian pula, merendahkan ulama berarti mengabaikan hak-hak mereka. Mengabaikan hak mereka berarti mengabaikan hak Tuhan. Jika Anda ingin mencari Tuhan, maka penuhilah hak orang-orang miskin dan ulama. Sesunggunya Tuhan bersama siapa saja yang mengenyangkan perut orang lapar, memberi pakaian kepada orang yang tidak berpakaian pantas, memuaskan dahaga orang haus, dan memuliakan orang berilmu.
__._,_.___

Berapa lama Kita dikubur?

Sebuah kisah.. yang dapat diambil hikmahnya..



Berapa lama Kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan Ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan & kemudian duduk Di atas seonggok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915: 20- 01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari Kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya...

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah." Ayahnya mengangguk sembari tersenyum, sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 42 tahun ya Yah..." Kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 42 tahun ... "

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 106 tahun yang lalu ya Yah", jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya. "Memangnya kenapa ndhuk ?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa dineraka" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"
"Iya .. Kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 42 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 42 tahun nenek senang dikubur .... Ya nggak yah?" mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada Ayahnya pendapatnya.

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ..... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah Di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa .. atau bahagia dikubur .... Lalu Ia menunduk ... Meneteskan air mata...

Kalau Ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti Ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un .... Air matanya semakin banyak menetes, sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur. Lalu setelah dikubur? Bukankah Akan lebih parah lagi?
Tahankah? padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya terangkat, keatas bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya

Allahumma as aluka khusnul khootimah.. berulang Kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan Bambu. Di betulkannya selimutnya. Yani terus tertidur.... tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya arti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya...

"Yaa Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku..."

Sebarkan e-mail ini ke saudara-saudara Kita, mudah-mudahan bermanfaat.. .

Seandainya Qur'an Bisa Bicara

Jumat, 05 November 2010

Menitikkan Air Mata Membaca Kisah Qurban Bu Sumi

Menitikkan Air Mata Membaca Kisah Qurban Bu Sumi
Cerita pedagang hewan Qurban

Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang, namun setiap ingin memasuki I’dul Adha saya selalu teringat dengan kejadian yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah melupakannya.


Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor laku terjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorang teman mengajak saya untuk sholat ashar dan saya pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat kami berjualan. Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.

Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana kesibukan demi melayani calon pembeli. Akhirnya saya dan teman saya berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. “Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami”, Syukur saya dalam hati.

Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya “Ibu itu mau beli ya ? dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya dari tadi udah ada disitu. Kayaknya Cuma liat-liat aja, mungkin lagi nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.

Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan. “Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?. Tanpa menjawab pertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, “Kalau yang itu berapa bang ?” Ibu itu menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang itu harganya Rp.
600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?, gak usah tawar lagi ya bu... Rp. 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir saya memang dari harga segitu keuntungan saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. “Uang saya Cuma ada 450 ribu, boleh gak”. Waduh... saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. “Biarlah mungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu
untuk berqurban”. Sepakat kami berempat. “Tapi bawa sendiri ya.. ?” akhirnya si ibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.

Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallaah..... Astaghfirullaah..... Alaahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihat keadaan rumah ibu tersebut. Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari kawat. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh.
Diatas dipan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam kondisi sakit. “Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apa” (oh ternyata ibu ini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar. “Ini ibu saya bang” ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya. Mak Sumi udah beliin
kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Orang tua itu kaget namun dari wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Alaahu Akbar, Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.

“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya telalu murah, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI....... Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengan niat dari ibu ini. Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Saya langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.

“Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, “sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar. Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah, karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

Sabtu, 26 April 2008

Pengalaman Seram Seorang Photografi

Karena asik memotret sunset dan mengeksplorasi wilayah yang baru pertama kali dia kunjungi, seorang travel photografer baru menyadari bahwa dia sudah tersesat dan ditinggal oleh rombongannya.

Tanpa disangka-sangka, hujan badai turun! Spontan fotografer merasa sangat sial!!!... sudah tertinggal rombongan, tersesat, gelap dan hujan lebat pula... Tapi akhirnya timbul harapan... setelah di ujung jalan dia melihat lampu mobil perlahan-lahan mendekat.

Tidak mau kehilangan kesempatan, dia melambaikan tangannya untuk meminta tumpangan. Ketika mobil tersebut mendekat, tanpa mau membuang waktu menunggu mobil berhenti..sang fotografer langsung naik ke mobil, duduk. Setelah duduk ia kemudian menjadi kaget dan berkeringat dingin!!!

Ia tiba-tiba menyadari bahwa ternyata mobil yang berjalan pelan tersebut tersebut ternyata tidak ada yang mengemudikan! !!!!

Namun karena hujan lebat dengan petir yang sambung-menyambung maka fotografer tersebut memilih tetap bertahan di dalam mobil...ia pun tidak putusnya berdoa mohon keselamatan selama perjalanan itu. Satu hal yang ia sadari bahwa mobil tersebut berjalan sangat pelan...namun pasti...

Walaupun tanpa orang yang menyetir...mobil tersebut selalu dapat mengelak bencana.
Ketika mobil sepertinya akan menabrak pohon atau jatuh ke jurang....tiba- tiba sebuah tangan muncul dari arah jendela pengemudi lalu mengendalikan setir agar mobil tidak menabrak atau jatuh. Hal tersebut terjadi berulang-ulang kalinya.

Akhirnya, mobil tersebut mencapai daerah hunian penduduk dan bergerak mendekati sebuah warung kopi. Melihat hal itu, fotografer tersebut segera membuka pintu dan karena yakin mobil tersebut tidak akan pernah berhenti berjalan...maka ia buru2 loncat turun. Sesampainya di warung kopi, ia memesan secangkir kopi...ia minum perlahan dan gemetar...karena ketakutan dan kemudian menangis terisak-isak.

Kejadian itu menarik perhatian pemilik warung dan para pengunjung diwarung tersebut dan dengan simpatik mencoba menenangkan Fotografer tersebut dan menanyakan ada permasalahan apa. Fotografer tersebut dengan terisak-isak dan gemetar menceritakan kejadian seram yang baru saja dia alami. Karena kelelahan dan menahan rasa takut yang teramat sangat..maka tidak berapa lama kemudian fotografer tersebut kemudian pingsan.

Mendadak, dua orang berpakaian kotor dan basah kuyup masuk ke dalam warung kopi dan melihat sang fotografer yang sedang pingsan. Spontan salah satu dari mereka berkata,

"Itu dia Orangnya!!!! !"

"Si kampret bangsat yang numpang di mobil kita yang lagi kita dorong!!!!"


Serius banget bacanya, wakakakaka.. .......

Haji Mabrur dan Tukang Sepatu

“Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba Allah yang menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji mabrur?”


Diceritakan bahwa di sebuah perkampungan terpencil ada seorang miskin yang bekerja sebagai tukang nyemir sepatu. Walaupun tukang penyemir sepatu dan miskin, semangat dan komitmennya untuk pengabdi kepada Penciptanya sangat besar. Bahkan tidak ketinggalan mengimpikan untuk dapat melaksanakan ibadah haji di suatu hari.
Untuk mewujudkan mimpi itu, disisihkanlah penghasilannya dari ke hari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. Kalaulah seandainya bukan karena iman dan tawakkal yang tinggi, pastilah hamba Allah ini patah semangat, sebab uang yang dikumpulkan itu tidak pernah mencukupi biaya haji yang dibuthkan. Namun didukung oleh semangat penuh dan kerja keras, hingga suatu ketika dirasa bahwa bekal untuk berhaji telah mencukupi.
Segala persiapan pun dilakukan. Niat telah bulat, perbekalan ada di tangan. Kini tinggal memulai perjalanan itu. Hati hamba ini bersuka ria tiada habis memuji kebesaran Ilahi. Dan tibalah masa untuk memulai perjalanan itu. Tiba-tiba di saat akan meninggalkan rumahnya terdengar kabar bahwa tetangganya terjatuh sakit dan memerlukan bantuan keuangan untuk pengobatan.
Sang hamba itupun mengalihkan langkah kakinya menuju kediaman tetangga itu. Di lihatnya tetangganya tergeletak lemah, merintih menahan sakit dan berharap jika ada yang berkenan membantunya untuk meringankan bebannya itu. Diapun dengan ikhlas dan tekad karena mencari ridha Allah SWT memberikan bekal perjalanan hajinya kepada tetangga dengan harapan Allah memberikan keringanan bagi penderitaannya.
Singkatnya, sang hamba itu gagallah berangkat ke tanah suci. Sebuah ambisi pribadi pengabdian kepada Rabbnya yang telah lama diidamkan. Namun dalam hatinya dia puas karena mampu memberikan secercah harapan dan ketenangan kepada tetangga yang tergeletak lemah dan tak berdaya itu.
Dari kota terdekat dari kampung tukang sepatu ini juga ternyata ada beberapa orang yang menunaikan haji pada tahun yang sama. Bahkan beberapa di antaranya berangkat menunaikan ibadah haji untuk ke sekian kalinya.
Singkat cerita, tibalah masa wukuf di Arafah. Sang hamba yang gagal berangkat haji itu kembali menggeluti pekerjaan hari-harinya dengan penuh ikhlas. Gembira dalam setiap saat bersama ridha Tuhannya. Hatinya seolah bernyanyi ria dalam genggaman rahasia Ilahi. Bergerak mengikuti hempasan ombak takdir kekuasaanNya. Gerakan-gerakan tangannya selalu teriringi oleh pujian dan tasbih kepada sang Khaliq, Pencipta alam semesta.
Sementara itu, manusia di padang Arafah hanyut dalam kekhusyu’an ibadah mereka. Terdengar lafaz-lafaz dzikrullah dan pujian dalam AsmaNya. Siang yang terik itu menjadikan sebagian para haji tertidur diirngi tasbih dan kekhusyu’an
Salah seorang dari jama’ah yang berada di padang Arafah itu adalah seorang saudagar kaya dan terpandang dari sebuah kota dekat perkampungan hamba Allah yang miskin tadi. Sang saudagar ini tertidur pulas di tengah-tengah kekhusyu’an manusia memuja Rabb mereka. Dalam tidurnya itu, sang saudagar ini bermimpi ketemu dengan Rasulullah SAW.
Beliaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba Allah yang menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji mabrur?”
Rasulullah kemudian menjawab dengan tersenyum ramah: “Si fulan, seraya menyebutkan nama sang hamba miskin itu”.
Saudagar itu terkejut dan ingin tahu siapa gerangan dia yang beruntung itu. Maka beliaupun menyambung pertanyaannya: “wahai Rasulullah, siapa gerangan dia dan berasal dari mana?”
Rasulullah kembali menjawab dengan ramah: “Dia adalah seorang hamba Allah dari perkampungan fulan, seraya menyebutkan nama kampugnya”.
Mendengarkan itu, saudagar itu terkejut dan hampir tidak percaya. Mana mungkin, pikirnya, ada seseorang yang pergi haji dari kampung itu. Semua penduduknya adalah miskin. Penghasilannya tidak mungkin mencukupi untuk seseorang bisa menunaikan ibadah haji. Pergolakan batin sang haji itu yang setengah percaya dan tidak menjadikannya terbangun.
Setelah menunaikan ibadah hajinya, saudagar itu segera kembali ke kotanya. Keinginannya sangat besar untuk tahu siapa gerangan orang yang mendapatkan haji mabrur dari perkampungan yang disebutkan itu. Ditelusurinya kampung itu, tapi tak seorang pun mengaku melakukan ibadah haji. Lalu dia teringat nama yang disebutkan oleh Rasulullah SAW tadi, maka dicarinya orang itu. Ternyata dia hanyalah seorang tukang semir sepatu yang miskin.
Saudagar itu pun meminta sang penyemir itu menceritakan perihal dirinya, dan sampai Rasulullah SAW menjamin baginya haji mabrur. Maka dengan tenang tapi dengan hati yang bahagia sang penyemir itu bercerita panjang, mulai dari niatannya untuk haji, mengumpulkan perbekalan sedikit demi sedikit, hingga saat-saat pemberangkatan dan bantuannya kepada tetangganya yang membutuhkan.
“Barangkali niatku yang bulat dan kerja keras dan tekadku itu yang diterima. Sayapun ikhlas dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah SWT.”, katanya sambil tersenyum melirik pak haji.
Tak lupa juga sang penyemir sepatu ini menyampaikan selamat kepada sang haji seraya berdoa semoga mendapatkan haji mabrur.

Haji Mabrur
Di saat di Padang Arafah, Abu Bakar pernah ditanya oleh seorang sahabat: “apakah itu haji mabrur wahai Abu Bakar?”.
“Engkau akan melihat apakah haji kamu mabrur atau tidak di Madinah nanti” jawabnya singkat.
Haji mabrur memang menjadi impian setiap pelaku ibadah haji. Dalam titahnya, Rasulullah SAW menjelaskan: “dan haji yang mabrur tiada balasan baginya kecuali syurga”.
Untuk mendapatkan janji inilah, setiap Muslim akan melakukan berbagai upaya dan pengerbonan agar dapat menunaikan ibadah haji dan sekaligus melakukan berbagai ibadah yang dapat menjadikan hajinya mabrur (baik) atau maqbul (diterima).
Sayang, pemahaman tentang makna haji mabrur itu seringkali dibatasi oleh dinding-dinding ritual yang ketat. Dalam memahami mabrur atau tidaknya haji seseorang tidak atau jarang melihat jauh di balik dari praktek-praktek ritual yang terkait dengan haji. Perhatian sepenunya terkadang hanya pada sebatas apakah rukun-rukun, wajib maupun sunnah-sunnah haji terpenuhi secara baik.
Pertanyaannya, itukah semua tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan ibadah haji? Apakah ibadah haji sekedar dimaksudkan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya? Atau barangkali sekedar dimaksudkan untuk membersihkan dosa-dosa masa lalu?
Jawabannya pasti tidak. Ibadah dalam Islam tidak maksudkan justeru untuk membangun “egoisme” pribadi, walau itu atas nama penyembahan. Ruku’ dan sujud seorang hamba seharusnya tidak dibangun di atas kepuasan pribadi atau keinginan untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan individu saja, walau itu atas justifikasi akhirat.
Inilah rahasia dari ungkapan Abu Bakar kepada seorang sahabat bahwa hajinya akan diketahui mabrur atau tidak di saat telah kembali ke Madinah (kampung halamannya). Bahwa di saat kembali berada di tengah-tengah kehidupan kesehariannya, terjadi perubahan yang positif. Imannya menjadi semakin “tajam” sehingga mampu menembus kuatnya batas-batas wujud material ini. Ibadahnya semakin “dalam” (ikhlas) dan bertambah. Apalagi, kelakuan sosialnya akan semakin tumbuh secara positif, menjadikan semua di sekitarnya merasai aman dan tenteram karena sang haji.

Haji Sosial
Berdoman kepada cerita si tukang sepatu maupun jawaban Abu Bakar R.A. di atas jelas bahwa haji adalah amalan ibadah dalam Islam yang memiliki konsekwensi sosial yang tinggi. Betapa tidak, panggilan berhaji dalam Islam itu sendiri dikumandangkan dalam bentuk panggilan “kemanusiaan”: Dan kumandangkanlah kepada manusia (wahai Ibrahim) untuk datang berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu (untuk berhaji) dengan berjalan kaki dan mengendarai onta-onta yang jinak. Mereka berdatangan dari seluruh penjuru yang jauh (Al Qur’an).
Ketika Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk berhaji dalam Al Qur’an, juga dipakai panggilan “kemanusiaan”: Dan bagi Allah atas manusia untuk berhaji kepada Baitullah, bagi siapa yang mampu (Al Qur’an).
Kedua hal dia atas menunjukkan ikatan sosial kemanusiaan yang terdapat dalam ibadah haji itu. Dan kenyataannya memang demikian. Di saat musim haji, mereka yang datang ke tempat-tempat suci itu hanya dipandang dengan satu pandangan, yaitu “pandangan kemanusiaan”. Mereka tidak lagi dipandang dalam ikatan-ikatan sosial dan keduniaan lainnya. Hanya satu kriteria yang membedakan di antara mereka, kriteria ketakwaan yang tidak ditentukan oleh afiliasi sosial manusia.
Kesadaran nilai sosial dalam haji ini seharusnya ditumbuh suburkan di saat menusia diterkam oleh gaya hidup egoistik dunia modern. Dinding-dinding pembatas sosial begitu kuat menjadikan manusia kehilangan koneksi batin. Dinding-dinding itu menjadikan manusia saling menilai, bukan lagi dengan penilaian kemanusiaannya, tapi lebih dekat kepada penilaian hewaninya. Manusia saling berbangga dengan ras, suku, warna kulit, kebangsaan, dan tentunya tingkatan perekonomiannya. Seolah semua inilah yang menentukan harga diri (dignity) seorang anak insan.
Kemampuan menembus dinding-dinding pembatas sosial menjadi sebab tumbuhnya rasa solidaritas yang tinggi. Kesenangan atau penderitaan sesama di sekitarnya akan mudah terlacak karena ada rasa kemanusiaan yang tinggi. Ada sensitivitas yang tajam untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya. Terbangun kesadaran sosial yang tinggi sebagai akibat dari sensitivitas tadi. Perbedaan sosial atau status ekonomi tidak menjadi penghalang untuk merasakan apa yang terjadi di sekitarnya.
Disebutkan dalam sejarah bahwa suatu ketika Umar bin Khattab pernah berangkat ke Jum’atan sambil memegang perutnya. Ketika ditanya oleh seorang sahabat, apa gerangan yang terjadi? Umar menjawab: “Demi Allah saya lapar dan tidak akan merasakan kenyang selama anak-anak yatim dan kaum miskin masih merasakan kelaparan”.
Beliaulah yang pernah bertanya kepada seorang sahabtnya: “Apakah engkau tidur dengan baik semalam?”. Sahabat menjawab: “Iya Umar, saya tidur dengan nyenyak”. Umar memberitahu: “Demi Allah, saya tidak nyenyak tidur dalam 3 malam ini karena khawatir akan dimintai pertanggung jawaban oleh para janda, anak yatim dan kaum miskin pada hari kiamat nanti”.
Di suatu malam beliau ke luar dari rumahnya untuk melakukan pengecekan langsung situasi kota Madinah. Dari kejauhan beliau melihat api yang menyala. Ketika mendekat didapatilah seorang ibu yang nampaknya sedang memasak. Umar bertanya: “Apa yang anda sedang masak dan kenapa memasak di pertangahan malam?” Sang ibu menjawab: “Sungguh saya memasak batu-batuan untuk menghibur anak-anakku yang kelaparan. Mudah-mudahan dengan melihat nyala api ini mereka tertidur sambil menunggu makanan ini siap untuk dihidangkan”.
Sang ibu itu melanjutkan: “Saya hanyalah seorang janda yang punya banyak anak. Umar sebagai pemimpin tidak bertanggung jawab membiarkan kami kelaparan seperti ini” sambil terus menerus menuduh Umar tidak bertanggung jawab tanpa menyadari bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Umar sendiri.
Tanpa berbicara sepatah kata, airmata Umar mengalir membasahi pipi dan janggut beliau mendengarkan pengaduan ibu itu. Beliau kemudian meninggalkan ibu itu dan kembali ke Madinah malam itu juga langsung menuju baitul mal (gudang penyimpangan bahan-bahan bantuan). Diambilnya sekarung gandum dan beberapa potong lauk (syahm) dan dipikulnya sendiri kembali menuju tempat ibu tadi. Di tengah jalan beliau berpapasan dengan seorang sahabat. Sahabat terkejut melihat Umar memikul sekarung gandum. Beliau menawarkan diri untuk membawakan karung tersebut. Tawaran itu ditolak olehnya seraya berkata: “Akankah engkau mengambil alih tanggung jawabku di hadapan Allah kelak?”.
Sungguh contoh solidaritas sosial yang agung dari sahabat dan pemimpin agung. Bahwa accountability (pertanggung jawaban) bukan sekedar duniawi sifatnya, tapi yang lebih penting adalah pertanggung jawaban di Akhirat kelak.
Bukankah masanya, di saat jutaan manusia menjerit dalam genggaman kerisauan ekonomi, tiada pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang melonjak, manusia seharusnya tersadarkan akan urgensi haji sosial. Di saat saudara-saudara sebangsa dan seiman hidup dan menghidupi keluarganya di bawah kolon-kolon jembatan itu, di saat-saat para ayah bercucuran keringat tanpa pernah mencukupi kebutuhan keluarganya, di saat ribuan anak-anak potensi bangsa harus kehilangan kesempatan belajar karena biaya pendidikan yang tinggi, kita tersadarkan oleh hajinya sang tukang sepatu. Haji yang terbangun di atas fondasi kesadaran sosial yang tinggi dan bukannya haji yang semakin membawa kepada prilaku egoistik atas nama Tuhan dan ridhaNya. Wallahu a’lam!


* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York"

Tukang Roti Kelaparan

Ada satu satu cerita yang sangat menarik dan inspiring. Cerita ini berasal dari buku Habitudes karangan Dr. Tim Elmore.

Tentu anda semua mengenal tukang roti.

Bayangkanlah jika anda pergi ke sebuah toko roti. Anda tinggal memilih selera kesukaan anda. Dan juga ada bermacam-macam rasa. Baik rasa keju, coklat, vanila maupun rasa lainnya. Setiap pagi dengan hati yang gembira. Tukang roti selalu menyiapkan adonan pembuat roti. Dalam pikirannya dia harus memberikan yang terbaik bagi penikmat rotinya.

Bahannya dia pakai yang nomor satunya. Tak lama kemudian, rotinya sangat terkenal karena kenimatannya. Pelanggan pun selalu antri bila ingin membeli rotinya. Lewat berita dari mulut ke mulut. Kelezatan rotinya cepat menyebar tidak hanya di daerah tempat dia tinggal. Bahkan pelanggan pun rela datang jauh-jauh dari luar kota. Hanya untuk merasakan dan mencicipi sepotong rotinya. Ada juga membawa pulang untuk oleh-oleh bagi keluarga mereka.

Karena rotinya sangat terkenal. Tukang roti sangat hati-hati menjaga cita rasa. Dia rela turun tangan langsung untuk membuat rotinya. Tak seorang pun yang dia percayai untuk membantunya. Kurang pas, rasanya bila tidak dia turun tangan langsung. Memang pelanggan terus datang secara bertubi-tubi. Dari pagi sejak tokonya buka. Sampai tokonya tutup selalu saja pelanggan antri. Ia berjalan mondar-mandir melayani permintaan pelanggannya. Namun lihatlah apa yang terjadi dengan diri tukang roti ini. Dia sibuk memberikan yang terbaik bagi pelanggannya. Tapi dia lupa memberikan yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Hampir setiap hari dia selalu terlambat makan. Kadang-kadang nasehat dari sang istri untuk istrirahat. Tak dihiraukannya. Dia semakin lupa tugasnya sebagai seorang ayah. Bagi putri semata wayangnya. Lama mereka tidak berjalan bersama. Makan bersama. Maupun bermain bersama. Baginya uang yang banyak sudah cukup. Lama kelamaan kondisinya semakin menurun. Dia menjadi seorang pria yang kurus dan mempunyai banyak keluhan penyakit.

Lewat cerita Tukang Roti Kelaparan ini, Tim Elmore ingin memberikan sebuah nasehat kepada kita. Bahwa uang bukanlah segala-segalanya. Kita ingin memberikan yang terbaik bagi orang lain. Tapi kita lupa memberikan yang terbaik bagi diri sendiri dan keluarga. Jauh lebih penting bila kita bisa membagi waktu dengan bijak. Ya, semuanya penting. Tapi jauh lebih bijak bila kita mampu mengurus diri sendiri dan keluarga.


Pertanyaan:

Sudahkah anda memberikan yang terbaik bagi diri sendiri dan keluarga?

Kisah Nek Ijot

Oleh : Tri Hidayat

Waktu saat itu masih jam 06.00 pagi, tapi istriku sudah membangunkan aku lagi setelah tidur selepas menunaikan sholat Subuh. Katanya dia kepingin dikusuk Nek Ijot, tukang urut langganan keluarga yang tinggal di Kampung Banten - kampung tetangga. Karena istriku sedang hamil muda untuk anak yang ketiga, keinginan itu kupenuhi juga walaupun agak malas-malasan karena biasanya tiap hari Minggu aku selalu bangun agak siangan untuk memanjakan diri lepas dari rutinitas.

Udara masih terasa dingin menusuk waktu kami berangkat naik motor menuju rumah Nek Ijot karena rumah mertua memang berada di luar kota yang masih berhawa sejuk dan bersih. Begitu tiba, istriku langsung masuk ke rumah Nek Ijot yang sudah dikenalnya sejak kecil. Nek Ijot yang nama aslinya sendiri aku tidak tau, berasal dari sebuah desa di Banten Lama (provinsi Banten) punya 12 anak, tapi hanya 7 orang yang hidup karena yang lainnya meninggal dunia di usia muda. Suami Nek Ijot sendiri adalah seorang petani, sudah meninggal dunia pada saat anaknya masih kecil-kecil, sehingga Nek Ijot harus berjuang seorang diri untuk menghidupi keluarganya. Semua pekerjaan pernah dilakoni Nek Ijot, dari buruh tani di kebun orang, buruh pikul hingga menjadi Tukang Urut sekaligus Dukun Beranak yang cukup dikenal di lingkungan kami.

Keluarga Nek Ijot memang dekat dengan keluarga kami karena 2 orang anak Nek Ijot, Kak Asih dan Kak Minah dulunya jadi babby sitter buat istriku waktu dia kecil dan tinggal bersama keluarga mertua. Walaupun bertugas sebagai pengasuh dan pembantu di dapur, tapi kedua anak Nek Ijot diperlakukan sama seperti keluarga sendiri karena kami tidak pernah menggunakan istilah ”pembantu”. Nek Ijot cerita bahwa dulu kalau anak-anaknya pulang ke rumah selalu saja dibekali makanan ataupun pakaian/barang-barang oleh mertuaku, walau kondisi mertua sendiri saat itu juga masih pas-pasan. Seingat istriku, waktu dia kecil dulu kalau orang tuanya berdagang ke luar kota, dia dititipkan di rumah Nek Ijot, waktu itu dia sangat takut sekali dengan suara jangkrik dan binatang malam yang terdengar jelas selepas Magrib. Nek Ijot juga bersyukur walau anaknya tidak berpedidikan tinggi hanya tamatan SMP saja, tapi selama tinggal bersama keluarga mertua mereka mendapat pendidikan agama dan disiplin yang baik.

Beberapa bulan yang lalu, Nek Ijot baru saja berkunjung ke rumah Bang Mansyur, salah seorang anak laki-lakinya dan rumah keluarganya di Jakarta selama sebulan. Sepulang dari pelesiran di Jakarta, tiba-tiba Nek Ijot dihinggapi rasa ingin yang mendalam untuk menunaikan ibadah haji. Ya, Nek Ijot kepingin sekali naik haji atau menjadi Bu Hajjah di usianya yang 77 tahun - Nek Ijot bilang waktu jaman Nippon alias zaman penjajahan Jepang dia berumur 12 tahun. Nek Ijot segera menghubungi anak-anaknya dan menyampaikan niatan untuk menunaikan ibadah haji dan meminta mereka menyumbang semampunya, ya sekitar Rp. 1 juta per orang dan anak-anak menanggapi dengan antusias.

Nek Ijot juga cerita, dia sudah mendapat pelatihan sebagai dukun beranak sejak tahun 1986 dari Dinas Kesehatan untuk menggunakan alat yang steril seperti : gunting, perban, dll dalam proses persalinan, sedang dulunya hanya menggunakan sembilu yaitu bilah bambu untuk memutuskan tali pusar bayi. Terkadang Nek Ijot harus mengganti sendiri alat bantu kesehatan yang pernah diberikan Puskesmas karena sudah tidak layak lagi. Setiap membantu proses melahirkan hingga perawatan pasca melahirkan termasuk jamu-jamuan, Nek Ijot membandrol Rp. 300 ribu saja, sangat murah bila dibanding dengan Bidan Desa atau Bidan Puskesmas yang mematok Rp. 450 ribu per sekali melahirkan belum termasuk biaya perawatan dan obat-obatan pasca melahirkan.

Harga yang dipatok Nek Ijot yang sangat murah itu juga sudah ditambah lagi khitan untuk anak perempuan plus doa-doa secara Islami pada saat proses melahirkan maupun perawatan pasca melahirkan. Tak lupa Nek Ijo memberi saran atau nasehat buat ibu hamil atau pasca melahirkan agar kondisi si ibu dan bayinya lebih baik dan sehat. Padahal pada masa-masa sebelumnya Nek Ijot tidak pernah menentukan tarif untuk service yang diberikannya, jadi hanya seikhlas penerima jasa saja sehingga kadang-kadang uang yang diterimanya tidak mencukupi untuk membeli ramu-ramuan yang dibutuhkan. Tapi Nek Ijot selalu yakin dan percaya, bila kita berbuat baik Allah akan membalasnya dengan rezeki yang tidak diduga-duga dan tidak terhingga banyaknya. Dengan keyakinan yang sama pula, Nek Ijot tak henti-hentinya berdoa agar niatnya menunaikan ibadah haji dikabulkan dan tetap meminta dukungan dari anak-anaknya.

Kesempatan yang tak terduga itu akhirnya datang saat beberapa orang surveyor dari perusahaan komunikasi celluler sedang mencari lokasi baru untuk menempatkan tower BTS (Base Transceiver Station). Pada awalnya, mereka sudah menemukan lokasi yang tidak berapa jauh dari rumah Nek Ijot sedang pemilik tanahnya juga sudah setuju dan bersedia mengurus dokumen pertanahannya, tapi berhubung signal masih kurang baik lokasi tersebut dibatalkan. Setelah mencoba berulang kali di beberapa lokasi, akhirnya mereka menemukan lokasi yang tepat dan pas yaitu di belakang rumah Nek Ijot, selain signalnya penuh juga aksesnya tidak terlalu jauh ke jalan aspal, hanya beberapa meter saja karena rumah Nek Ijot sendiri persis dipinggir jalan besar

Berkat doa yang tak putus-putus akhirnya harapan Nek Ijot untuk naik haji dapat diterkabul dengan dibayarnya kontrak sewa tanah sebesar Rp. 40 juta selama 20 tahun atas tanah seluas + 200 meter. Sebelum menyetujui kontrak sewa, Nek Ijot juga sudah meminta pendapat anak-anaknya agar tidak ada masalah di kemudian hari dan ternyata anak-anak sangat mendukung rencana ini dan memutuskan supaya uang yang didapat sepenuhnya digunakan untuk memenuhi niat Nek Ijot berhaji.

Semua urusan administrasi telah selesai berkat bantuan menantu Nek Ijot yang bertugas di PT. Pertamina, tinggal menungu jadwal tes kesehatan, manasik haji dan jadwal keberangkatan karena nama Nek Ijot masuk daftar tunggu (waiting list) haji tahun 2008 . Nek Ijot sendiri merasa sangat lega sekali karena niatan yang awalnya sangat mustahil akhirnya didengar oleh Allah SWT dan sangat berharap jadwal keberangkatannya tidak ditunda lagi mengingat usia dan kondisi kesehatannya, walau aku lihat sendiri tubuhnya yang mungil itu cukup cekatan terlihat bugar dan sehat saat mengusuk istriku.

Demikianlah kisah nyata dari seorang Nek Ijot, semoga menjadi renungan dan dapat menarik hikmah yang bermanfaat untuk kita semua, semoga...... (TH280807).